fbpx
Hipnotis » BLOG » Bimbingan Konseling » Teori Koneksionisme Edward Lee Thorndike (1874 – 1949)

Teori Koneksionisme Edward Lee Thorndike (1874 – 1949)

Menurut Edward Lee Thorndike, belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, juga dapat berupa pikiran, perasaan, gerakan atau tindakan. Teori Thorndike ini sering disebut teori koneksionisme.

Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.

Dengan adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberikan sumbangan cukup besar di dunia pendidikan tersebut, maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan. Selain itu, bentuk belajar yang paling khas baik pada hewan maupun pada manusia menurutnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut hukum-hukum tertentu. Eksperimen pavlov telah memberikan inspirasi bagi para peneliti  – peneliti di Amerika seperti Thorndhike, ia adalah psikolog Amerika yang pertama kali mengadakan eksperimen hubungan dengan kucing melalui prosedur dan aparatus yang sistematis ( Fudyartanto,2002 ). Eksperimennya yaitu :

  1. Kucing yang lapar dimasukkan dalam kotak kerangkeng ( puzzle box ) yang dilengkapi dengan alat pembuka bila disentuh
  2. Diluar kotak ditaruh daging. Kucing dalam kerangkeng bergerak kesana kemasi mencari jalan untuk keluar, tetapi gagal.Kucing terurus melakukan usaha dan gagal. Keadaan ini berlangsung terus ;
  3. Pada suatu ketika kucing tanpa sengaja menekan sebuah tombol sehingga tanpa disengaja pintu kotak kerangkeng terbuka dan kucing dapat memakan daging didepannya.

Percobaan Thorndhike tersebut diulang – ulang dan pola gerakan kucing sama saja namun makin lama kucing dapat membuka pintunya. Gerakan usahanya makin sedikit dan efisien. Pada kucing tadi terlihat ada kemajuan – kemajuan tingkah lakunya. Dan akhirnya,kucing dimasukkkan dalam box terus dapat menyentuh tombol pembuka ( sekali usaha,sekali terbuka) hingga pintu terbuka.

Thorndike menyatakan bahwa perilaku belajar manusia ditentukan oleh stimulus yang ada dilingkungan sehingga menimbulkan respon secara refleks. Stimulus yang terjadi setelah sebuah perilaku terjadi akan memengaruhi perilaku selanjutnya. Dari eksperimen ini, Thorndhike telah mengembangkan hukum law of effect.

Hukum Law of effect menyatakan bahwa jika sebuah tindakan diikuti oleh perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu akan diulang kembali akan semakin meningkat. Sebaliknya, jika sebuah tindakan diikuti oleh perubahan yang tidak memuaskan, maka tindakan itu mungkin menurun atau tidak dilakukan sama sekali. Dengan kata lain , konsekuen – konsekuen dari perilaku seseorang akan memainkan peran penting bagi terjadinya perilaku – perilaku yang akan datang.

Baca Juga: Aliran-aliran Psikologi

Tiga Hukum Belajar Utama Menurut Edward Lee Thorndike

The Law of Effect (Hukum Akibat)

Hukum akibat yaitu hubungan stimulus respon yang cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.

Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya, ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya

The Law of Exercise (Hukum Latihan)

Hukum latihan yaitu semakin sering tingkah laku diulang/dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Dalam hal ini, hukum latihan mengandung dua hal:

• The Law of Use : hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah kuat, kalau ada latihan yang sifatnya lebih memperkuat hubungan itu.

• The Law of Disuse : hubungan-hubungan atau koneksi-koneksi akan menjadi bertambah lemah atau  terlupa kalau latihan-latihan dihentikan, karena sifatnya yang melemahkan hubungan tersebut.

The Law of Readiness (Hukum Kesiapan)

Hukum kesiapan yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.

Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar merupakan suatu kegiatan membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak. Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit, maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.

PRINSIP TAMBAHAN PROSES BELAJAR

Prinsip Multiple Response

Prinsip ini menyatakan bahwa binatang atau orang mencoba berbagi-bagi response sebelum mendapatkan response yang tepat melalui proses yang ia namakan “trial and error”,Proses belajar “trial and error”ini tergantung pada adanya beberapa factor seperti motivasi,hambatan atau kesukaran,kadang kadang usaha tanpa arah ,percobaan yang berhasil,penyisihan response yang tidak efektif,atau konsolidasi response-response  yang pernah menimbulkan hasil.

Prinsip Kesiapan Mental

Yang dimaksud kesiapan mental disini ialah kecenderungan bertingkahlaku tertentu.Kesiapan mental ini lebih mendekati kondisi sementara,seperti sikap,perasaan,dan minat.Proses belajar dapat berlangsung bila ada kesiapan mental yang positif pada siswa.

Prinsip Aktivitas Berat Sebelah (Partial activity)

Menurut Thorndike response hanya dapat diberikan pada sebagian atau aspek tertentu dari keseluruhan stimulus (response selektif).

Prinsip Analogi atau Asimilasi

Prinsip  ini mnyatakan bahwa bila individu  belum memiliki response yang tepat  dlm menghadapi situasi baru, ia akan melakukan response yg mempunyai response yg telah dimiliki, yang di gunakan dalam meresponse situasi lama yg memiliki elemen-elemen serupadengan situasi baru.

Prinsip perpindahan asosiasi (associative shifting)

Prinsip ini menyatakan bahawa setiap response yang telah dimiliki individu dapat melekat pada stimulus baru.prosis ini sama dengan prosis conditioned response .

Edward Lee Thorndike Dalam Bidang Pendidikan

Menurut Thorndike dengan Teori Koneksionisme nya, praktek mendidik haruslah dipelajari secara ilmiah.ada aturan yang dibuat Thorndike mengenai hal ini:

  1. Perhatikan situasi murid
  2. Perhatikan respon apa yang hendak dikenakan kesituasi tersebut
  3. Ciptakan hubungan tersebut dengan sengaja, jangan mengharap hubungan terjadi dengan sendirinya
  4. Situasi – situasi lain yang sama jangan dihubungkan,sekiranya dapat memutuskan hubungan tersebut
  5. Bila hendak menciptakan hubungan tertentu tersebut,jangan  buat hubungan – hubungan lain yang sejenis
  6. Buat hubungan tersebut sedemikian rupa sehingga nanti dapat perbuatan nyata
  7. Ciptakan suasana tersebut ssedemikian rupa sehingga sama dengan apa yang nanti diperlukan dalam hidup sehari – hari.

Implikasi Teori Edward Lee Thorndike dalam Pendidikan

  • Sesuai dengan teorinya, menurut Thorndike suatu sekolah harus mempunyai tujuan tujuan pendidikannya yang dirumuskannya dengan jelas
  • Tujuan pendidikan tersebut harus masih dalam jangkauan kemampuan murid
  • Harus terbagi bagi menurut unit- unit sehingga guru dapat memanipulasikan menurut bermacam – macam situasi misalnya situasi yang menyenangkan,tidak menyenangkan dan sebagainya
  • Proses belajar harus bertahap dari yang sederhana sampai ke yang kompleks
  • Motivasi tidak perlu ditimbulkan , kecuali dalam hubungan menentukan “apa yang menyenangkan bagi murid “ ,oleh karena tingkah laku murid ditentukan oleh “ external rewards” dan bukan oleh instric motivation “
  • Tekanan pendidikan adalah perhatian kepada pelaksana respon – respon yang benar terhadap stimuli
  • Respon – respon yang salah harus segera diperbaiki agar tidak diperkuat melalui ulangan – ulangan
  • Ulangan – ulangan yang teratur perlu, karena dapat merupakan umpan balik bagi guru apakah belajar berjalan sesuai dengan tujuan
  • Bila murid belajar dengan baik,segera diberi reward,bila murid berbuat salah harus segera ditegur/diperbaiki
  • Buat situasi belajar mirip dengan kehidupan sebenarnya sebanyak mungkin, sehingga dapat terjadi transfer dari kelas ke lingkunggan kehidupan nyata.
  • Memberikan masalah yg sulit kepada murid tidak akan meningkatkan kemampuan anak dalam memecahkan persoalan-persoalannya.
  • Tetapi memberikan pelajaran di sekolah pada murid sehingga murid dapat menggunakannya di luar sekolah, dalam kehidupan sehari-hari, itulah pendidikan yang baik.

Artikel Lainnya Mengenai Belajar: Teori Behavioristik

Daftar Pustaka Edward Lee Thorndike – Teori Koneksionisme

  • Hergenhahn, B.R. An introduction to Theories of Learning. New Jersey: Prentice Hall Inc., 1976.
  • Hilgard, E.R. & Bower, G.H. Theories of Learning 4th Edition. New York: Appliton Century Crofts.
  • Fudyartanto, Ki RBS. 2002. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru . Jogjakarta: Global Pustaka Ilmu
  • Gambar: https://medicalpharmanews.com/

Baca Juga:

Leave a Comment