Hipnotis » BLOG » Bimbingan Konseling » Teori Allport – Kepribadian, Watak dan Tempramen

Teori Allport – Kepribadian, Watak dan Tempramen

Allport adalah seorang tokoh yang memandang optimis positif, penuh harap terhadap manusia. Orang yang sehat tidak dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan taksadar, kekuatan yang tidak dapat dilihat dan dipengaruhi, konflik-konflik taksadar yang terjadi pada masa kanak-kanak. Tingkah laku taksadar adalah tingkah laku orang dewasa yang neurotis, mereka terikat atau terjalin oleh konflik masa kanak-kanak.

Individu yang sehat memiliki kesadaran dan tingkat rasional, bebas dari paksaan masa lampau dan diarahkan ke masa sekarang dan intensi ke arah masa depan, pandangannya kedepan, tidak mundur kembali pada masa kanak-kanak. Mereka memiliki tujuan jangka panjang sebagai pusat kehidupan pribadi, memiliki kebutuhan yang terus menerus yang variatif, menyenangi tantantangan dan hal-hal yang baru. Inilah yang membedakan manusia dewasa dan anak-anak, dari kepribadian yang sehat dan yang sakit (Allport, 1955)

Motif orang dewasa bukan merupakan perpanjangan dari masa kanak-kanak. Secara fungsional otonom terhadap masa kanak-kanak. Segi sentral dari kepribadian adalah intensi yang sadar dan dewasa, yakni, harapan, aspirasi dan impian-impian. Kodrat intensional (intentional nature) dari kerpibadian sehat adalah berjuang ke arah masa depan, mempersatukan dan mengintegrasikan seluruh kepribadian (bukan mereka tidak punya masalah) melainkan mampu menjaga keutuhan serta mengintegrasikan semua seginya untuk mencapai tujuan, memiliki kebutuhan yang terus menerus, mereka tidak suka hal-hal yang rutin, mereka kreatif, berani mengambil resiko, berspekulasi dan menyelidiki hal-hal yang baru.

Orang neurotis memiliki kekurangan terhadap tujuan jangka panjang dan kepribadiannya terpotong-potong. Kebahagiaan bukanlah suatu tujuan, melainkan hasil sampingan dari keberhasilan integrasi kepribadian dalam mengejar aspirasi dan tujuan.

Dorongan dari kepribadian yang sehat memiliki prinsip penguasaan dan kemampuan (principle of mastery and competence), bahwa yang matang dan sehat tidak cukup puas dengan melaksanakan tingkat yang sedang atau memadai, melainkan sedapat mungkin mencapai tingkat penguasaan dan kemampuan yang tinggi, memiliki dorongan yang bersifat konstruktif, megejar aktivitas terhadap tujuan, dinamis dan tidak pernah berakhir. Bila suatu tujuan telah berakhir, atau harus dibuang, maka suatu motif baru harus cepat dibentuk. (Allport dalam Schultz, 1991)

Baca Juga: Teori Pikiran Bawah Sadar

Dasar Pemikiran

  • Individu memiliki sifat yang kompleks dan khas
  • Faktor yang menentukan perilaku adalah kesadaran
  • Mementingkan masa kini dari pada masa lampau
  • Tidak ada kontinuitas anatar normal dan tidak normal, antara anak dan orang dewasa
  • Kepribadian merupakan masalah yang harus dihadapi dengan cara yang sebaik-baiknya
  • Strukturdan Dinamika Kepribadian

Struktur kepribadian dinyatakan dengantrait (sifat) dan perilaku itu didirong oleh sifat atau traits sehingga struktur dan dinamika kepribadian pada umumnya satu dan sama. Selain ada traits terdapat juga sikap (attitude) dan intensi (intentions) yang memiliki kedudukan atau arti yang sama.

Kepribadian, watak dan temperamen.

Kepribadian

Kepribadian merupakan organisasi dinamis, yang selalu berkembang dan berubah. Kepribadian bukan eksklusif (semata-mata) mental dan bukan pula semata-mata neural. Kepribadian melingkupikerja tubuh dan jiwa (tak terpisah-pisah) dalam suatu kesatuan. Kepribadian terletak dibelkang perbuatan-perbuatan khusus yang ada dalam diri individu (Personality is simething and does something)

Watak

Watak lebih menunjuk pada normatif (character is personality evaluated and personality is character devaluated)

Temperamen

Temperamen merupakan disposisi yang sangat erat dengan faktor biologis atau fisiologis sehingga sedikit sekali mengalami modifikasi dalam perkembangannya. Keturunan memegang reranan yang amat penting dalam proses pembentukannya. Temperamen merupakan bagian khusus dari kepribadian. 

Temperamen adalah gejala karakteristik daripada sifat emosi individu, termasuk mudah tidaknya kena rangsangan emosi, kekuatan serta kecepatannya bereaksi, kualitas kekuatan suasana  hati, segala cara dari fluktuasi dan intensitas suasana hati, gejala ini tergantung kepada faktor konstitusional dan berasal dari keturunan (Allport, 1951)

Sifat (Traits)

Sifat adalah sistim neuropsikis yang digeneralisasikan dan diarahkan dengan kemampuan untuk mengahdapi bermacam-macam perangsang secara sama, memulai serta membimbing tingkah laku adaptif dan ekspresif secara sama (Allport, 1951)

Sifat (traits) dan kebiasaan (habits). Sifat merupakan tendens determinasi yang  lebih bersifat umum sedangkan habits tendens yang lebih kusus.

Sifat (traits)  dan Sikap (attitude). Keduanya merupakan predisposisi untuk merespon, keduanya adalah khas, keduanya dapat memulai dan membimbing tingkah laki, keduanya adalah hasil dari faktor belajar. Namun jika diteliti memiliki perbedaan:

Sikap (attitude) berhubungan dengan suatu obyek, sedangkan sifat (traits) tidak. Sifat memiliki arti yang lebih luas daripada sikap. Sikap bisa berbeda-beda, dari yang khusus ke yang umum. Sikap memberikan penilaian (menerima atau menolak) terhadap obyek sedangkan sifat tidaklah demikian.

Sifat dan Type. Menurut Allport, orang bisa memiliki suatu sifat tetapi tidak dapat memiliki suatu type. Type adalah konstruksi ideal dari pengamat dan seseorang dapat disesuaikan dengan type itu tetapi dengan konsekuensi diabaikan sifat khas individualnya. Sifat dapat mencerminkan kekhasan pribadi sedangkan type menyembunyikannya. Type menunjukkan perbedaan buatan yang tidak begitu sesuai dengan realitasnya sedangkan sifat adalah refleksi yang sebenarnay apa yang benar-benar riel dan apa adanya.

Macam-macam sifat (traits)

  • Sifat umum (bersama) dan sifat individual

Sifat-sifat selalu ada pada individu dan tidak ada dalam masyarakat. Sifat itu berkembang dan menjadi disposisi-diisposisi dalam cara yang khas sesuai dengan pengalaman masing-masingindividu. Sifat umum bukanlah sifat yang sebenarnya melainkanhanyalah aspek yang dapat diukur daripada sifat individu yang kompleks. Sifat umum menunjukkan aspek kepribadian yang dapat dibandingkan. Sifat individual yang mempunyai nilai prediksi kasar dinamakan sifat umum atau sifat nomotheis. Sifat khusus merupakan sifat khas yang ada pada diri individu.

  • Sifat pokok, sifat sentral dan sifat sekunder

Sifat pokok atau cardinal traits, yakni kualitas yang sangat dominan yang ada pada diri individu (the eminent traits, the rulling passion, the master sentiment atau the radix of life (Allport, 1951)

Sifat central (central traits) adalah lebih khas dan merupakan kecenderungan individu yang sangat khas/karakteristik yang sering berfungsi dan mudah ditandai

Sifat sekunder (secondary traits) merupakan sifat yang fungsinya terbatas, kurang menentukan dalam diskripsi kepribadian, dan lebih terpusat atau khusus pada respon serta perangsang yang cocok.

  • Sifat ekspresif

Sifat ekspresif meriupakan disposisi yang memberi warna atau mempenagruhi bentuk tingkah laku, dan dapat memberi warna pada tingkah laku,  misalnya ulet

  • Kebebasan sifat
    • Konsistensi  (Consistency) sifat-sifat
    • Intensi

Intensi adalah keinginan individu menganai masa depannya, harapan, keinginan, ambisi, cita-cita seseorang

  • Propium

Semua fungsi self atau ego dinamakan propium (propriate function) daripada kepribadian. Fungsi-fungsi tersebut termasuk kesadaran jasmanai, self identity,, self esteem,, self extention, rational thingking, self image, propriate striving dan fungsi mengenal. Semuanya merupakan bagian penting dari kepribadian. Propprium tersbut bukan factor genetika melainkan berkembang dalam proses perkembangan individu.

Perkembangan propium. Propium berkembangan dari masa bayi sampai pada masa adolescence serta memiliki tujuh tingkatan (penentu kepribadian sehat). Allport) dalam Schultz, 1991) mengatakan tujuh tingkatan propium tersebut adalah:

Diri jasmaniah

Perasan tentang diri, bukan merupakan pewarisan keturunan melainkan terbentuk karena pengalaman belajar.

  • Identitas diri (perasaan identitas diri).

Anak mulai sadar akan identitas dirinya melalui namanya yang membedakan dengan orang lain. Nama menjadi lambang kehidupan untuk mengenal dirinya, untuk menghadapi serta bertahan terhadap pengalaman-pengalaman yang berubah-ubah.

  • Harga diri.

Menyangkut perasaan bangga terhadap dirinya, masa ini terlihat ketika usia 2 tahun dengan fase menentang distruktif dan ingin berkuasa, masa ini ditentukan oleh orang tua dalam keluarga. Selanjutnya munculnya harga diri anak pada pemenuhan kebutuhan otonomi, yakni usia 6-7 tahun dimana harga diri ditentukan oleh semangat bersaing dengan kawan-kawan sebayanya.

  • Perluasan diri self ex(tention).

Mulai usia 4 tahun anak menyadari nama dirinya, benda miliknya, lingkungannya. Mereka mulai belajar tentang arti nilai. Disinilah letak kemampuan anak untuk diperpanjang atau perluasan pandangan.

  • Gambaran diri.

Gambaran diri berkembang dari hasil interaksi antara anak dan orang tua. Lewat pujian dan hukuman harapan-harapan oarng tua dipelajari oleh anak. Dengan harapan tersbut akan muncul rasa tangungjawab moral serta rumusan tentang tujuan hidupnya.

  • Diri sebagai perilaku rasional.

Setelah anak mulai sekolah diri sebagai perilaku rasional mulai muncul. Aturan dan harapan baru dipelajari melalui teman bermain dan guru, disinilah muncul tantangan intelektual dala memmecahkan masalah secara logis rasional

Perjuangan propium (Propriate Striving). Masa ini adalah masa yang menentukan, munculnya identitas diri, pencararian diri ubtuk berkembang ke arah masa depan dengan tujuan dan harapan jangka panjang. Pada masa ini terjadi tarik menarik antara teman dan orang tua dalam pencarian diri, terjadi pengujuan diri dengan memakai kedok-kedok untuk menemukan kepribadian orang dewasa. Suatu kegagalan atau kekecewaan pada setiap tingkat melumpuhkan penampilan pada tingkat berikutnya serta menghambat integrasi harmoni pada tingkat itu. Sehingga pengalaman masa kanak-kanak amat penting dalam membentuk dan menentukan kepribadian yang sehat.

  • Diri orang yang sehat

Bagian penting dari kepribadian adalah membicarakan tentang diri (self). Allport mengatakan dengan istilah propium, yakni sesuatu yang unik yang dimiliki oleh seseorang atau hal-hal yang penting/proses yang penting yang menentukan keunikan manusia (Allport dalam Schultz, 1991).

Sifat-sifat dari kepribadian yang sehat

Kepribadian yang sehat menurut Allport adalah:

Perluasan perasaan diri.

Dalam perluasan ini, orang harus menjadi partisipan langsung, memperhatikan serta ambil kegiatan di luar dengan penuh semangat produktif, terlibat kedalam aktivitas dengan penuh dinamisasi.

Hubungan diri yang hangat dengan orang lain.

Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman dengan (cinta)  terhadap orang tua, anak, patner  dll. Kapasitas dari keintiman ini merupakan suatu perluasan diri yang mempengaruhi kesehatan psikologisnya. Ada dua macam kehangatan dalam hubungan denga orang lain, yakni kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untik perasaan terharu. Syarat dari kapasitas keintiman adalah berkembangnya identitas diri dengan baik. Dalam kaitannya dengan perasaan haru, orang yang sehat memeilki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan, ketakutan dan kegagalan.

Sikap empaty yang merupakan dorongan imaginative dari keinginannya untuk memahami manusia pada umumnya. Perbedaan antara orang sehat dan neurosis adalah terlihat dari hubungan cinta. Orang neurosis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinta, apabila ia memberi cinta  maka diberikannya dengan syarat dan kewajiban timbal balik. Cinta bagi orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengika.

Keamanan emosional,

yakni penerimaan diri terhadap kelebihan dan kelemahan dirinya dengan sedikit konflik, mengontrol emosi serta mengembangkan dorongan emosinya untuk kegiatan yang konstruktif. Termasuk dapat menerima emosi negatif dan positif orang lain atau sering dikatakan sabar terhadap kekecewaan. Mereka memiliki persepsi realitas, memandang dunia secara obyektif dan realistis, trampil dalam  tugas, memiliki pemahaman diri. Orang yang memiliki tingkat pemahaman diri (self obyectification) yang tinggi tidak mungkin memproyeksikan kulitas negatif pribadinya pada orang lain serta memiliki falsafah hidup yang mempersatukan.

Baca Juga:

Leave a Comment