fbpx
Hipnotis » BLOG » Psikologi » Konsep Diri (Self Concept)

Konsep Diri (Self Concept)

Konsep diri (Self Concept) yang positif mendukung adanya perasaan yang kompeten pada individu untuk menentukan langkah yang diambil. Bagaimana individu memandang dan menilai keseluruhan tentang dirinya atau menentukan sejauh mana pribadi individualnya.

Mereka yang memandang & menilai dirinya mampu, cenderung lebih memiliki kemandirian dan sebaliknya, mereka yang memandang & menilai dirinya sendiri kurang akan cenderung menggantungkan dirinya pada orang lain.

Pengertian Konsep Diri

Konsep diri seseorang dapat dinyatakan melalui sikap-sikap dirinya yang merupakan aktualisasi dari orang tersebut. Manusia sebagai organisme memiliki dorongan untuk berkembang yg pada akhirnya dapat menyebabkan ia sadar akan keberadaan mengenai dirinya. Perkembangan yg berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan self concept dari individu yang bersangkutan.

Perasaan individu yang menganggap bahwa ia tidak mempunyai kemampuan menunjukkan adanya sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang ia miliki. Padahal berbagai faktor keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu dalam memandang kualitas kemampuan yang dirinya miliki. Pandangan & sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dirinya miliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan, meskipun sebenarnya tidak sesulit itu. Sebaliknya pandangan positif terhadap kualitas kemampuan yang diri sendiri miliki mengakibatkan seorang individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang mudah bahkan menyenangkan untuk diselesaikan.

Carl Rogers menganggap self concept berada didalam kesadaran seseorang, jadi self concept ini merupakan suatu konfigurasi dari persepsi- persepsi terorganisasikan mengenai diri yang dapat masuk ke dalam kesadaran (Burns, 1993:53). Menurut Cawagas bahwa konsep diri adalah pandangan menyeluruh individu tentang dimensi fisiknya, karakteristik pribadinya, motivasinya, kelemahannya, kepandaiannya, maupun kegagalannya (Pudjijogyanti, 1988:2).

Baca Juga: Teori Kepribadian Carl Rogers

Sedangkan menurut William D. Brooks bahwa konsep diri adalah pandangan tentang totalitas psikis, sosial dan fisik tentang dirinya yang berasal dari pengalaman-pengalaman dan interaksinya dengan orang lain (Jalaludin Rahmat,1986:99). Konsep diri meliputi apa yg kita pikirkan & apa yang kita rasakan tentang diri kita sendiri.

Komponen konsep diri antara lain: 1) Komponen kognitif yg disebut juga citra diri (Self Image), komponen ini berhubungan dengan pikiran. Citra diri (Self Image) ini meliputi: kecerdasan, kepercayaan diri, daya tarik fisik, tujuan hidup, kedudukan & peran sosial, kesukaan orang lain pada dirinya. 2) Komponen afektif yg sering disebut juga harga diri (Self Esteem), komponen ini berhubungan dengan perasaan. Harga diri (Self Esteem) meliputi: perasaan, penyesuaian diri, penerimaan diri, penghargaan, dan pujian.

Konsep diri merupakan gambaran dan penilaian positif terhadap diri sendiri dapat digunakan sebagai dasar berperilaku dan menyesuaikan diri. Maka dari itu sebagai inti atau dasar kepribadian, konsep diri berpengaruh terhadap ciri-ciri individu dalam bertingkah laku serta cara-cara bertindak.

Isi Self Concept

Sewaktu lingkungan anak yang sedang bertumbuh itu meluas, isi dari konsep dirinya juga berkembang meluas, termasuk hal-hal seperti pemilikan, teman-teman, nilai-nilai, dan khusunya orang-orang yang disayangi melalui proses identifikasi. Secara umum isi dari self concept dapat dirumuskan.

Menurut Jersild dalam penelitiannya pada anak usia sekolah dasar dan sekolah menengah seperti dikutip oleh Burns (1993:209-210) mendiskripsikan isi dari konsep diri sebagai berikut:

  1. Karakteristik fisik
  2. Penampilan
  3. Kesehatan dan kondisi fisik
  4. Rumah dan hubungan keluarga
  5. Sikap dan hubungan sosial
  6. Bakat dan minat sosial
  7. Kecerdasan
  8. Hobi dan permainan

Sementara itu Livesly dan Barmly (1973) seperti yang dikutip Burns (1993:211). Mendeskripsikan isi konsep diri dalam kategori-kategori sebagai berikut:

  1. Penampilan
  2. Identitas diri
  3. Persahabatan
  4. Keluarga dan pertalian keluarga
  5. Pemilikan
  6. Sifat kepribadian secara umum
  7. Tingkah laku yang spesifik
  8. Minat dan hobi
  9. Keyakinan akan nilai-nilai
  10. Sikap terhadap diri
  11. Hubungan dengan lawan jenis
  12. Perbandingan dengan orang lain

Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa isi konsep diri meliputi penampilan, kepribadian, kecerdasan, kesehatan dan kondisi fisik, keluarga, hubungan sosial, penyesuaian dengan orang-orang disekitar dan lawan jenis, bakat dan minat serta hobi.

Karakteristik Self Concept

Menurut Jalaluddin Rahmat (1986:104) bahwa dalam menilai dirinya, seseorang ada yg menilai positif & ada yang menilai negatif. Maksudnya individu tersebut ada yg mempunyai konsep diri yang positif dan ada yang mempunyai konsep diri yang negatif.

Tanda-tanda individu yang memiliki konsep diri yang positif sebagai berikut:

  1. Ia yakin akan kemampuan dalam mengatasi masalah
  2. Ia merasa setara dengan orang lain
  3. Ia menerima pujian tanpa rasa malu
  4. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan dan keinginan serta perilaku yang tidak seluruhnya disetujui oleh masyarakat
  5. Ia mampu memperbaiki diri karena ia sanggup mengungkapkan aspek-aspek kepribadian tidak disenangi & berusaha mengubahnya

Sedangkan tanda bahwa individu memiliki konsep diri negatif adalah:

  1. Ia peka terhadap kritik
  2. Ia responsif sekali terhadap pujian
  3. Ia terlalu kritis, tidak sanggup menghargai & tidak mengakui kelebihan orang lain
  4. Ia cenderung merasa tidak disenangi oleh orang lain
  5. Ia bersikap pesimis terhadap setiap kompetisi, ditandai dengan rasa enggan untuk bersaing (Jalaluddin Rahmat,1986:105)

Sejalan dengan hal itu, Calhoun (1990:72-74) mengatakan bahwa karakteristik konsep diri dapat dibedakan menjadi dua yaitu positif dan negatif yang keduanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

Konsep diri positif

  1. Dapat menerima dirinya sendiri secara apa adanya
  2. Berkepribadian yang sifatnya stabil dan bervariasi
  3. Dapat menyimpan segala informasi, baik informasi negatif maupun informasi positif
  4. Dapat memahami & menerima fakta-fakta yang sangat bermacam-macam tentang dirinya sendiri
  5. Dapat mengenal dirinya dengan baik
  6. Dapat menerima dirinya sendiri, juga menerima orang lain
  7. Dapat menghadapi kehidupan didepannya
  8. Selalu bertindak berani dan sopan

Konsep diri negatif

  1. Cara pandang terhadap dirinya sendiri tidak teratur
  2. Tidak memiliki perasaan kestabilan dan keutuhan diri
  3. Tidak tahu tentang siapa dirinya, serta apa kelebihan dan kelemahannya
  4. Menerima informasi tentang diri, & pasti menjadi penyebab kecemasan, rasa ancaman terhadap dirinya
  5. Tidak memiliki kategori mental yg dapat dikaitkan dg informasi yg bertentangan dengan dirinya
  6. Selalu melindungi konsep dirinya yang kokoh dg mengubah atau menolak informasi baru
  7. Selalu menilai atau memandang negatif terhadap diri
  8. Selalu menganggap diri tidak berharga jika dibandingkan dengan orang lain

Pembentukan dan Perkembangan Konsep Diri

Masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak menuju masa dewasa. Sebagai masa peralihan, masa remaja juga disebut masa transisi dimana hal itu diawali dengan adanya perubahan fisik yang menimbulkan perasaan aneh dan berbeda dengan orang lain. Situasi ini sangat mempengaruhi pembentukan citra fisiknya yg menjadi dasar dari konsep diri. Menurut Erikson (1968) dalam Pudjijogyanti (1988:42) keadaan fisik pada masa remaja merupakan sumber pembentukan identitas diri dan self concept.

Konsep diri adalah aspek diri yang paling penting, hal ini bukan merupakan faktor yang dibawa sejak lahir, melainkan faktor yang dipelajari dan terbentuk dari pengalaman individu dalam berhubungan dengan individu lain. Dalam interaksi ini, setiap individu akan menerima tanggapan. Tanggapan yg diberikan tersebut akan dijadikan cermin bagi setiap individu untuk menilai dan memandang dirinya sendiri. Jadi, konsep diri terbentuk karena suatu proses umpan balik dari individu lain (Pudjijogyanti,1988:12). Dengan demikian self concept itu muncul berdasarkan pengalaman, kebiasaan dan latihan dalam berinteraksi dengan lingkungan.

Setelah anak terlahir ia dapat memberikan respon terhadap dunia sekitarnya, orang yang dikenal pertama kali oleh individu adalah orang tua dan anggota keluarga lain. Ini berarti individu akan menerima tanggapan pertama dari lingkungan keluarga. Konsep diri yang tinggi pada anak dapat tercipta apabila kondisi keluarga ditandai dengan adanya integritas dan tenggang rasa yang tinggi antar anggota keluarga (Pudjijogyanti,1988:31).

Barulah setelah individu mampu lepas dari ketergantungannya kepada keluarga, ia akan berinteraksi dg lingkungan yang lebih luas. Apa yang tampak pertama kali dalam diri tiap-tiap individu adalah keadaan fisik & jenis kelaminnya. Dengan demikian apa yang direfleksikan pertama kali oleh individu lain mengenai diri individu adalah keadaan fisik dan jenis kelaminnya itu. Masa remaja sebagai masa yang potensial untuk mengembangkan self concept, sebab masa remaja merupakan masa yang penuh dengan tekanan yang memungkinkan individu menemukan identitas dirinya.

Hal tersebut senada dengan pendapat Singgih D. Gunarso (1983:238) bahwa konsep diri terjadi atas tahapan-tahapan yaitu primer dan sekunder. Self Concept primer yang terbentuk berdasarkan kenyataan pengalaman individu dengan lingkungannya terdekat yaitu keluarga, konsep bagaimana dirinya tumbuh dan berkembang dari perbandingan antara dirinya dan keluarganya. Self Concept sekunder yang terbentuk setelah anak tumbuh, maupun berinteraksi dengan lingkungan luas sehingga terbentuk konsep diri baru yang lebih berkembang dari apa yang telah diperoleh dari lingkungan tertentu.

Baca Juga

Leave a Comment