fbpx
Hipnotis » BLOG » Psikologi » Teori Kepribadian Erik Erikson

Teori Kepribadian Erik Erikson

Erik Erikson adalah penganut Freud, tetapi menambahkan pada perkembangan anak setelah masa pubertas. Kepribadian manusia tidak hanya ditentukan oleh pengalaman masa kanak-kanak, akan tetapi oleh pengalaman masa dewasa.

Kepribadian menurut Erik Erikson

Konsep berfikirnya berdasarkan  pada pandangan epigenesis, prinsip ini menganggap bahwa perkembangan merupakan proses berkelanjutan dan memiliki batas yang jelas dalam setiap stadiumnya. Jika sesolusi stadium tertentu mengalami hambatan, maka stadium selanjutnya mencerminkan kegagalan yang nampak dalam bentuk ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri (maladjusment) secara fisik, kognitif, sosial maupun emosional.

Stadium dari siklus kehidupan digambarkan melalui delapan tahapan. Stadium ditandai dengan adanya satu atau lebih krisis internal yang didefinisikan sebagai titik balik (turning point) suatu periode dimana seseorang berada dalam kerentanan yang mengikat. Stadium tidak terpaku oleh waktu, perkembangan adalah kesinambungan. Delapan stadium tersebut adalah:

Kepercayaan dasar vs ketidakpercayaan dasar (basic trust vs basic mistrust) sejak lahir sampai usia 1 tahun.

Kepercayaan >< ketidakpercayaan adalah krisis pertama yang harus dihadapi oleh seorang bayi. Kepribadian yang sehat terbentuk karena kepercayaan dasar yang merupakan pengalaman dasar seseorang. Erik Erikson menambahkan sensorik pada stadium oral, karena orang tua mengikuti indera bayi, penglihatan, pengecap, pembauan, peraba dan pendengaran. Melalui interaksi tersebut bayi mengembangkan perasaan kepercayaan bahwa keinginannya terpuaskan. Jika ibunya tidak memperhatikan maka bayi akan mengembangkan rasa ketidakpercayaan.

Krisis oral pada tahun pertama bagian ke dua, ketika bayi sudah mulai tumbuh gigi, maka muncul aktivitas sensorik bayi yang lebih kuat antara lain adalah menggigit punting susu ibunya. Efek dari penghindaran atau penolakan ibu ketika terjadi penggigitan akan menimbulkan pengontrolan diri anak sebagai proses belajar untuk mengendalikan perilaku. Proses penyapihan terhadap bayi akan memunculkan rasa sedih, tetapi jika kepercayaan dasar kuat maka bayi akan mengembangkan pengertian, harapan dan optimisme dan kepercayaan diri.

Ibu yang baik akan menanamkan cinta kasih yang tulus kepada anak sehingga akan memunculkan kepercayaan dasar yang kuat. Pencapaian sosial pertama dari bayi adalah kemauannya untuk membiarkan ibunya diluar jangkauan penglihatannya tanpa kecemasan. Hal tersbut terjadi karena ibu dapat memberikan kepastian inti (Inner certainty) di dalam gambaran mental bayi (24-36 bulan)

Satdium Otonomi vs rasa malu dan ragu-ragu (autonomy vs shame and doubt).

Kira-kira usia 1-3 tahun. Otonomi merupakan rasa penguasaan anak terhadap dirinya sendiri dan terhadap dorongan dan desakannya. Anak yang belajar berjalan mendapatkan rasa bahwa mereka terpisah dari yang lainnya. Anak memiliki pilihan mempertahankan atau melepaskan, bekerjasama atau keras kepala. Stadium ini bertepatan dengan fase anal pada teori Freud. Menurut Erik Erikson menahan feses (holding in) dan mengeluarkan feses (letting go) mempunyai pengaruh pada ibu.

Jika orang tua mengijinkan anak untuk berfungsi secara otonom dan bersikap membantu tanpa overprotective, anak akan mendapatkan kepercayaan diri dan merasa bahwa mereka dapat mengontrol dirinya sendiri dan dunianya. Tetapi jika anak dihukum atau dikontrol secara berlebihan, mereka merasa marah dan dipermalukan. Jika orangtua menunjukkan persetujuan dengan kontrol diri anak, maka akan muncul perasaan beharga, jika kotrol dari orangtua berlebihan maka anak akan kehilangan kontrol diri yang dinamakan impotensi maskular, menyebabkan anak ragu dan malu. Perasaan malu akan mempengaruhi cara pandang anak terhadap dirinya.

Inisiatif vs rasa bersalah (inisiative vs guilt) usia 3-5 tahun.

Stadium ini berhubungan dengan fase phalic, anak mengambangkan rasa ingin tahu tentang seksual yang dimanifeskan dengan keterlibatan dengan permainan seks kelompok atau menyentuh genitalnya sendiri atau teman sebayanya. Jika orang tua tidak membuat masalah tentang dorongan tersebut dengan memberi contoh yang menakutkan dan banyak mempermasalahkan maka prilaku tersebut akan ditekan  sehingga dapat menimbulkan permasalahan di masa remaja.

Hukuman yang berlebihan akan menghambat imaginasi dan inisiatif anak. Anak yang mengembangkan super ego yang terlalu kuat atau terlalu lemah akan memunculkan tuntutan anak terhadap moralitas yang dijalaninya. Jika krisis inisiatif diselesaikan dengan baik maka rasa tanggungjawab, disiplin diri akan berkembang.

Stadium 4 Industri vs inferioritas (industry vs inferiority)

Usia 6-11 tahun. Stadium ini merupakan periode usia sekolah, stadium ekuivalen dengan periode latensi. Industri adalah kemampuan untuk bekerja dan mendapatkan ketrampilan. Anak belajar untuk mampu berbuat sesuatu dan menguasai tugasnya. Jika ditekan terlalu besar pada aturan  atau kaidah-kaidah yang seharusnya, anak akan mengembangkan perasaan kecewa. Perasaan ketidakmampuan merupakan masa kritis pada satadium ini yang disebabkan oleh beberapa sumber: anak dibedakan dalam sekolah, anak yang dilindungi secara berlebihan, Guru dan orang tua yang baik mendorong mendorong anak ke nilai-nilai ketekunan dan produktivitas dan gigih dalam berusaha sehingga tidak mempertebal benteng inferioritas. Lingkungan sekolah yang tidak kondusif bagi anak dapat menghilangkan rasa harga diri.

Stadium indentitas vs difusi peran (identity vs role diffusion).

Usia 11-akhir masa remaja. Mengembangkan rasa identitas adalah tugas pada periode ini yang bertepatan dengan masa pubertas dan masa remaja. Identitas diri  yang sehat dibangun pada keberhasilan dalam stadium sebelumnya. Bagaimana keberhasilan mereka pada stadium keprcayaan dasar, otonomi, inisiatif dan industri memiliki banyak pengaruh terhadap masa ini.

Identitas adalah karakteristik yang membentuk seseorang kemana tujuan mereka. Identitas berarti suatu kekompakan anatara inti dengan ide dan nilai kelompok sosial. Seorang remaja adalah suatu penundaan psikososial antara anak-anak dan remaja. Pada masa ini sering terjadi krisis normatif . Kegagalan pada fase ini akan berakibat kebingungan peran atau difuse yang ditandai denga kebingungan peran tentang posisinya. Kebingungan peran (role difuse) bermanifestasikan dalam kelainan perilaku seperti melarikan diri, kriminalitas dan psikosis.

Stadium 6 Keintiman lawan absorpsi diri atau isolasi (intimacy vs self absorption), usia 21-49 tahun.

Konflik psikososial dapat muncul pada stadium ini atau sebelumnya. Keberhasilan atau kegagalan  terletak pada dasar yang diletakkan sebelumnya. Orang yang masuk masa ini mengalami kebingungan peran maka tidak akan terlibat hubungan yang kuat dan lama. Seorang yang normal harus mampu mencintai dan bekerja, pekerjaan yang berarti, pemanfaatan waktu luang dan rekreasi di dalam hubungan yang penuh kasih sayang adalah merupakan suatu kebutuhan.

Stadium 7 Generativitas vs stagnasi (generativity vs stagnation).

Usia 40 tahun 65 tahun). Orang dewasa yang tidak mempunyai minat dalam memimpin atau membentuk generasi yang mendatang kemungkinan mencari secara obsesif keintiman yang tidak benar-benar intim

Stadium ke 8 Integritas vs keputus-asaan (Integrity vs despair and isolattion). Usia lebih 65 tahun. Erik Erikson

Demikian Artikel Mengenai Teori Erik Erikson dalam Psikologi. Semoga bermanfaat, baca juga:

Leave a Comment