fbpx
Hipnotis » BLOG » Bimbingan Konseling » Teori Analisis Transaksional (Eric Berne)

Teori Analisis Transaksional (Eric Berne)

Teori Analisis Transaksional Eric Berne ini berdasarkan pada teori kepribadian Freud bahwa unsur kepribadian terdiri dari id, ego dan super ego. Model struktur kepribadian tsb dihubungkan dengan analisi structural dan transaksional atas ego stage atas kedudukan ego, yakni ego anak, ego dewasa dan ego orang tua. Konsep dasara. Analisis transaksional adalah ego stage, stroke. Analisis transaksional yang terdiri dari analisis structural dan analisis fungsional, symbiosys (hubungan yang saling menguntungkan tetapi sebenarnya salah)

Teori ini muncul pada tahun 1949 dan mulai tahun 1962 teori tersebut mulai digunakan di berbagai negara. Eric Berne sebagai seorang psikiatris dan psikoanalisis tetapi dalam predialeksinya tidak pernah menjadi analis. Teori yang digunakan untuk menyelesaikan masalah adalah teori dasar psikoanalisa yang berdampak pada transaksi interpersonal dan partisipasi non verbal.

Filosofi teori Analisis Transaksional

Dasar yang mendasari teori Eric Berne ini adalah bahwa semua orang mempunyai kemampuan, mampu mencintai, potensial untuk mencapai kemajuan, punya dorongan untuk tumbuh dan berkembang serta memiliki aktualisasi diri

Manusia memiliki niyat yang positif dan kemauan untuk berkembang sehingga pandangan analisis transaksional terhadap manusia adalah positif dan jika terjadi kesalahan manusia dalam melihat dan menilai persoalan yang dialaminya adalah karena faktor lingkungan atau orang lain yang mendukung kesalahan penilaian itu terjadi.

Analisis transaksional berdasar pada decision model. Mempelajari tingkah laku spesifik dan memutuskan suatu rencana hidup sebagai dasar tumbuh dan berkembang. Meskipun pertumbuhan dan perkembangan seseorang dipengaruhi oleh lingkungan secara kuat namun setiap orang memiliki gaya sendiri yang unik. Sejak keputusan ditentukan individu telah memiliki power untuk merubah dan membuat suatu keputusan baru. Tidak seseorangpun yang dapat membuat kita berubah, tetapi diri kita sendiri yang akan merubahnya. 

Konsep dasar teori Analisis Transaksional

Analisis transaksional yang terdiri dari analisis structural dan analisis fungsional, symbiosys (hubungan yang saling menguntungkan tetapi sebenarnya salah). Model struktur kepribadian dihubungkan dengan analisi structural dan transaksional atas ego stage atas kedudukan ego, yakni ego anak, ego dewasa dan ego orang tua.

Ego stage (keadaan ego)

Transaksi interpersonal yang konpleks mampu difahami ketika mengenal kepribadian manusia yang dibangun dari tiga ego sate, dimana masing-masing ego state masuk dalam pikiran, perasaan dan perilaku yang nampak dalam interaksi dengan orang lain. Ego state yang nampak dalam diri seseorang adalah orang tua, dewasa dan anak-anak serta interaksi antara ketiganya (kontaminasi) yang akan membangun pondasi yang kokoh.

Konsep kepribadian ini banyak dipakai dalam psikoterapi, dalam bidang pendidikan dan pada bidang konsultasi saat ini. Bangunan yang disusun dari tiga state tersebut dinamakan scond order analysis (Wollams & Brown, 1979); Corsini & Wedding, 1989) scond order analysis terdiri dari analisis strukturan, yang mewakili komponen biologis dan histories dari ego state, Analysis struktural sama dengan sejarah masing-masing ego sate dan kapasitas bawaan yang diproyeksikan keluar. dan analisis fungsional yang mewakili bagaimana ego state digunakan untuk menghubungkan dirinya sendiri dengan orang lain ((Wollams & Brown, 1979).

Eric Berne dalam Corsini & Wedding (1989) membedakan ego state menjadi tiga macam. Perbedaan tersebut dapat dilihat dan nampak pada penggunaan kata, pemikiran emosi, postur tubuh, gesture, tinggi nada atau suara dan ekspresi. Ego state anak kadang nampak kreatif, intuitif dan memburu kenikmatan, juga nampak sebagai penentang dan penurut, keadaan tersebut dinamakan archaeopsyche. Ego state dewasa nampak pada sikap realistis dan logis, yang disebut neopsyche yang lebih mengarah pada pengumpulan dan pemprosesan data. Ego state orang tua dinamakan exteropsyche yang berisikan sistem nilai, moral dan kepercayaan. Hal ini menunjukkan adanya pertumbuhan adanya kritik dan kontrol. Ego state orang tua sifatnya familial dan cultural artinya ego state tersebut dipengaruhi dan khas pada budaya tertentu yang nampak dan diinternaloisasi dari dalam keluarga.

Tiga sistem ego merupakan struktur pribadi yang disimboliskan oleh tiga hubungan tersebut menurut Eric Berne. Perbedaan alur menunjukkan keunikan serta terpisah dan independen dalam satu kesatuan (Corsini & Wedding, 1989). Berdasarkan analysis struktural  dan fungsional, maka status ego dibedakan menjadi:

  • status ego anak (somatic child), yang dilihat dari kebutuhan, keinginan dan perasaan dari badan yang terekspresikan dalam kehidupan yang berfungsi sebagai motivator utama untuk berperilaku. Meskipun status ego anak diwarnai dengan kebutuhan, keinginan dan perasaan, namun anak nampak sifat intuitif, ingin tahu dan tertarik untuk mengetahui tentang dirinya sendiri dan dunia luar yang dinamakan little professor. Status ego anak dibagi menjadi dua yaitu yang bebas dan yang adapted. Anak yang memiliki kebebasan dalam mengekspresikan pikiran dan persaannya, spontanitas, sedangkan anak adapted adalah anak yang rajin, penurut atau penurut dengan syarat (pemberontak) atau perilaku yang muncul karena hadiah dari orang tua.
  • Satus ego dewasa dalam anak. Status ego dewasa (Adult) atau sering dinamakan sebagai komputer karena memilki fungsi mengumpulakn, memproses dan menganalsisi data yang masuk
  • Status ego orang dewasa (Parentin the child), yang menggambarkan kegiatan rutin menguatkan secara sempurna dan akhirnya berperilaku secara otomatis. Bentuk lain dari ego ini adalah electrode, merupakan istilah yang menekankan rsepon yang otomatis terhadap stimulus lingkungan tertentu. Sikap electrode ini sikap seperti bos atau menasehati, mulia, luhur penuh semangat atau energi, suka mengontrol atau mengkritik dan orang tua type pengasuh.

Penggunaan ego state pada setiap transaksi menunjukkan dominan dan ada yang defensif atau dikucilkan. Ego state yang dominan tersebut yang dipakai sebagai label ego state seseorang (Sungkar, 1997). Ego state yang dukcilkan fungsinya akan menurun atau bahkan mati. Wollams dan Brown (1979) menjelaskan bahwa ego sate anak  yang dominan dikembangkan pada diri seseorang dan ia mengucilkan ego dewasa, maka individu akan menjadi orang yang nersitik, akan tetapi jika ego state orang tua yang dominan dan ego state dewasa dikucilkan ma individu akan berkembang menjadi paranoid atau psikosis karena wahamnya berkembang.

Ego dianggap sehat jika mengembangkan ego dewasa, ciri ego dewasa yang dikembangkan adalah pengambilan keputusan seseorang dari data yang dkumpulkan dan diproses secara RORP (rasional, obyektif, realisitik dan proporsional

Transaction

Konsep ke dua pada Analisis Transaksional adalah transaksi, yakni komunikasi secara bergantian antar orang. Analisis transaksional mencoba  mengenal ego state orang yang melakukan transaksi, dari dan yang diakui oleh transaksi sehingga mereka dapat mengintervensi dan memperbaiki kualitas dan efektifitas komunikasi.

Transasksi adalah suatu unit komunikasi manusia, atau suatu hubungan antara stimulus dan respon antara dua status ego seseorang atau dikatakan dengan istilah lain sebagai komunikasi (Corsini & Wedding, 1989). Ada tiga tingkatan dalam komunikasi, yakni social level, komunikasi yang termanifes dan psikological level yaitu komunikasi yang laten atau tidak nampak.  Wollams dan Brown (1979) menjelaskan tentang analisis transaksional adalah sebagai berikut:

  • transaksi komplementer
  • transaksi silang
  • transasksi uterior
  • Strokes

Stroke merupakan unit yang penuh perhatianyang memberikan perhatian kepada individu (Wollams & Brown, 1979).

Orang yang memerlukan stroke mengenal unit inerpersonal untuk survive dan berkembang. Pemahahaman orang dalam memberi dan menerima stroke secara positif dan negatif serta merubah pola yang tidak sehat menjadi sehat merupakan pekerjaan analisis transaksional.

Menurut Corsini & Wedding, (1989) motivasi dasar dari interaksi manusia adalah atas kebutuhannya terhadap strokes (hubungan dan pengenalan manusia). Positif stroke lebih baik dari negatif stroke akan tetapi negatif stroke lebih baik dari pada tidak ada strokes. Jika seseorang tidak mendapatkan strokes baik dalam bentuk positif maupun negatif maka akan mengalami degenerasi efek kemudian mati.

Cara mendapatkan dan memberikan strokes bisa dipelajari, melihat sifat individual yang unik sesuai dengan kepribadian. Strokes bisa berupa fisik dan juga psikologis, strokes eksternal dan strokes internal . Semakin tinggi usia seseorang banyak membutuhkan strokes secara psikologis. (Wollams & Brown, 1979).

Racket and Games

Pola perilaku tertentu yang difungsional dianggap sebagai games. Games merupakan bentuk transaksi ulterior (tersembunyi) dengan level overt dan covert yang hasilnya berupa perasaan tidak enak untuk kedua pemain. Ada pengulangan transaksi tidak langsung untuk mendapatkan strokes, sebagai ganti mereka mereinforce perasaan dan self concept negatif, menekspresikan emosi dan pikiran secara langsung. Menurut Corsini & Wedding, (1989) games akan terjadi ketika ada dua level transaksi yang berbeda (level psikologis dan level sosial) pada waktu yang sama

Script Teori Eric Berne

Eric Berne manganggap bahwa perilaku disfungsional merupakan hasil dari keterbatasan pembuatan keputusan pada masa kanak-kanak akan keinginan dan kemauannya untuk survive. Keputusan yang yang dibuat dinamakn life script.  Merubah script merupakan tujuan dari analisis transaksional. Hal yang penting pada masa kanak-kanak bukan hanya proses pengambilan keputusan tentang diri sendiri, melainkan bagaimana seseorang melihat keputusannya terhadap orang lain karena hal ini menjadi dasar dalam sistem keyakinannya. Satu script seseorang didasarkan pada eksistensi keputusan awalnya. Sekali seorang anak menerima pesan dari orang tuanya, maka hal ini akan berkembang dan menjadi sistem nilai dan keyakinan yang kuat dalam diri anak.

Kesalahan membuat scripet pada anak merupakan respon atas stimulus yang diberikan oleh orang tuanya. Respon tersebut dikembangkan oleh anak sebagai nilai dan keyakinan dalam dirinya. Apabila anak tidak dibimbing merubah keyakinannya maka script akan melakat pada diri anak selamanya (Sungkar, 1997). Menurut Corey (1988) penyusunan script yang salah pada diri individu akan mengganggu bahkan menghambat perkembangan ego state dewasa dan lebih lanjut akan menghambat perkembangan potensi manusia dalam mencapi aktualisasi dalam hidupnya. Faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah:

  1. kekurangan power
  2. ketidakmampuan menangani stress
  3. ketidakmatangan kepasitas berfikir
  4. kekurangan informasi
  5. kekurangan opini atas datanatau fakta yang ada di luar dirinya

Keadaan seperti ini oleh Eric Berne bukan hanya kesalahan anak semata, melainkan andil dari orang tua atau lingkungan yang ada di sekitar kehisupan anak. Kesalahan dalam pembuatan script dikarenakan individu telah kehilangan atau kelebihan kekuatan yang dibangun berdasar persepsinya sendiri. Kekuatan yang dimaksudkan adalah konsep yang sangat berarti bagi individu untuk menemukan dan mengarahkan diri dalm beberapa bentuk self destruction (perusakan diri). Power dan kedudukannya selalu bertentangan dengan kebutuhan yang ada dalam pembentukan script (Jacob, 2000). Keadaan seperti itu sering dinamakan counterscript.

Baca Juga Teori Psikonalasis (Id, Ego, Superego)

Contracts Analisis Transaksional

Menurut Corsini & Wedding, (1989), ada empat macam terapi kontraktual, yaitu:

  1. mutual assent. Kontrak dibuat berdasarkan kerjasama antara klien dan terapis dalam hubungan membangun mutualisme (saling menguntungkan)
  2. competensi. Kontrak dilakukan atasdasar kompetensi terapis atas keahlian yang dimiliki guna membantu klien memcahkan masalah
  3. legal object. Menekankan pembuatan kontrak  berdasarkan padsa hubungan formal antara terapis dank lien berdasarkan aturan main yang telah disusun sesuai dengan profesi terapis
  4. consideration.Kontrak yang dibuat atas dasar kesepakatan bersama
  5. Discounting.

Menurut Wollams & Brown,  (1979) gangguan emosional meliputi games dan rackets, perilaku yang dipelajari dan dihasilkan dari hubungan symbyotic yang tidak terpecahkan, Symbiotik terjadi ketika individu sebagaimana yang difikirkan atau harpkan, diantara mereka membentuk suatu hubungan secara keseluruhan. Hubungan ini dicirikan oleh transaksi ego satet yang komplementer dan mekhanisme yang digunakan untuk mempertahankan  adalah discount.

Discounting tidak hanya menghilangkan hal-hal yang positif dari orang lain melainkan juga memunculkan atau membesar-besarkan hal-hal yang negatif dari orang lain. Menurut Sungkar (1997) perkembangan discount pada seseorang secara berkelanjutan kemungkinan besar akan membentuk perilaku manipulatif, korupsi, kolusi karena adanya kesalahan dalam pengumpulan dan pemprosesan data yang tidak obyektif dan rasional, tidak realistik dan tidak proporsional. Sehingga banyak hal-hal yang seharusnya dipertimbangkan tetapi dihilangkan dan sebaliknya banyak hal-hal yang seharusnya diabaikan malah dibesar-besarkan. Orang-orang yang mempertahankan suatu simbiosis akan mendistorsi aspek-aspek pengalaman internal atau eksternal. Kondisi inilah yang dinamakan discount. Asa tempat level dalam discount, yaitu:

  1. eksistensi discounting
  2. signifikansi discounting dan
  3. kemungkinan merubah discounting
  4. kemampuan personal discounting

Tujuan Analisis Transaksional

Ada beberapa tujuan yang akan dicapai dalam analisis transaksional. Tujuan tersebut adalah:

  • Memabntu client dalam membuat keputusan baru yang berhubungan dengan perilaku dan arah kehidupan saat ini dan di sini
  • Mendorong client agar menyadari bahwa kebebasab dirinya untuk memilih telah dibatsi oleh putusannya yang menjadi pilihan di masa lalu
  • Menggantikan gaya hidup yang dotandai dengan permainan yang manipulatif oleh skenario hisup dengan gaya hidup otonom yang ditandai oleh adanya kesadarn, spontanitas dan keakraban
  • Membebaskan ego orang dewasa dari perencanaan dan pengaruh-pengaruh yang dihasilkan oleh ego orang tua dan ego anak
  • Mengajarkan client untuk mengenali, menyadari dan menjabarkan ketiga ego, selama ego tersebut muncul dalam transaksi dengan kelompoknya
  • Membantu client untukbisa berfikir lebih realistik dan mencari alternatif guna menjalani kehidupan yang otonom
  • Pencapaian otonom yangdiwujudkan oleh penemuan kembali tiga karakteristik: kesadarn, spontanitas dan keakraban.Otonom diartikan sebagai  kemampuan mengatur diri, menentukan nasib sendiri, memikul tanggungjawab sendiri atas tindakan dan perasaan serta membuat pola-pola yang tidak relevan dan tidak pantas bagi kehidupannya saat ini

Baca Juga

Leave a Comment