Hipnotis » BLOG » Psikologi » Albert Ellis – Teori Kepribadian ABC

Albert Ellis – Teori Kepribadian ABC

Di akhir tahun 40-an, Albert Ellis mengajar di Rutgers dan New York University, dan menjadi psikolog senior di Northern New Jersey Mental Hygiene Clinic. Dia juga menjadi psikolog utama di New Jersey Diagnostic Center dan kemudian di New Jersey Departement of Institutions and Agencies.

Keyakinan Albert Ellis terhadap psikoanalisis akhirnya pudar. Ketika dia bertemu dengan kliennya sekali seminggu, kemajuan yang dialami kliennya sama dengan kalau mereka berternu sekali sehari. Dia kemudian memutuskan untuk berperan lebih aktif lagi memberikan nasihat yang konkret dan tafsiran langsung terhadap persoalan keluarga atau persoalan seksual yang dikonsultasikan klien kepadanya.

Dengan prosedur seperti ini, kliennya mengalami kemajuan yang lebih pesat dibanding dengan prosedur pasif psikoanalisis yang selama ini diterapkan. Karena sebelum menjalankan analisis kepada klien-kliennya, Ellis telah menghadapi berbagai pertanyaan yang dia temukan ketika membaca dan mempraktikkan filsafat Epictetus, Marcus Aurelius, Spinoza dan Bertrand Russell, maka dia pun mengajarkan prinsip-prinsip yang dia dapat dan bacaannya dan terbukti berhasil untuk dirinya dan para kliennya.

Pada tahun 1955, Ellis menghentikan praktik psikoanalisisnya dan berkonsentrasi pada bagaimana mengubah perilaku orang yang dilandaskan pada keyakinan irasional dan mempengaruhinya agar mau menerima pertimbangan-pertimbangan yang lebih rasional. Gaya seperti ini agaknya memang sangat cocok dengan sosok Albert Ellis, karena dia bisa jujur pada dirinya sendiri. “Ketika saya memiliki perasaan yang rasional”, katanya, “proses kepribadian saya benar-benar mulai menggeliat”.

Dia menerbitkan buku pertamanya tentang REBT (Rational Emotive Behavioral Therapy) berjudul How to Live with a Neurotic, tahun 1957. Dua tahun kemudian dia mendirikan Institute for Rational Living, yang salah satu tujuannya adalah mengajarkan prinsip-prinsip terapinya kepada para ahli terapi lain. The A it and Science of Love adalah buku larisnya yang pertama, yang terbit tahun 1960. Sampai saat ini, dia telah menerbitkan 54 buku dan lebih dan 600 artikel tentang REBT, seks dan perkawinan. Saat ini, dia menjabat sebagai Presiden dari The Institute for Rational Emotive Therapy di New York.

Teori ABC – Albert Ellis

REBT dimulai dengan ABC. A adalah activating experiences atau pengalaman-pengalaman pemicu, seperti kesulitan-kesulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penyebab ketidakbahagiaan. B adalah beliefs, yaitu keyakinan-keyakinan, terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan kita. Dan C adalah consequence, yaitu konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi-emosi negatif seperti panik, dendam dan amarah karena depresi yang bersumber dan keyakinan-keyakinan kita yang keliru.

Walaupun pemicunya adalah pengalaman-pengalaman nyata dan memang benar-benar menyebabkan penderitaan, namun sesungguhnya keyakinan irasional kitalah yang memperumit dan memperbesar persoalan. Ellis menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus melawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psikologis positif dan keyakinan-keyakinan yang rasional.

Sebagai contoh, “orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir”. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi.

Jadi, seorang terapis harus membuktikan pada orang yang depresi ini bahwa dirinya juga memiliki kemampuan dan bisa meraih kesuksesan-kesuksesan hidup serta berupaya meruntuhkan keyakinan akan ketidakmampuan yang ada di dalam dirinya. Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan menyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri.

Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinan-keyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil “pengondisian filosofis”, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering. Albert Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang “diprogram” untuk selalu menanggapi “pengondisian-pengondisian” semacam ini.

Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Daripada berusaha memperjelas apa sesungguhnya yang kita hasrati, kita cenderung lebih menekankan tuntutan yang tidak jelas ujung-pangkalnya pada orang lain atau langsung saja menyatakan bahwa keinginan kita terlalu banyak. Ada beberapa jenis “pikiran-pikiran yang keliru” yang biasanya diterapkan orang, di antaranya:

1. Mengabaikan hal-hal yang positif,
2. Terpaku pada yang negatif, dan akhirnya
3. Terlalu cepat menggeneralisasi.

Dua Belas Ide Irasional yang Menyebabkan dan Memperparah Neurosis.

  1. Ide bahwa setiap orang dewasa pasti merasa ingin dicintai orang lain atas segala yang dia lakukan —bukannya gagasan yang memfokuskan perhatian pada apa yang dia lakukan demi mencapai tujuan-tujuan praktis demi kepentingan orang lain, atau gagasan untuk mencintai orang lain ketimbang selalu menuntut cinta dari orang lain.
  2. Ide bahwa ada tindakan-tindakan tertentu yang jelek dan merusak, dan pelakunya mesti dikecam karena tidak tahu malu –bukannya gagasan bahwa tindakan-tindakan tertentu ada yang merugikan diri sendiri atau anti-sosial, dan pelakunya pastilah tidak punya pertimbangan yang sehat, masa bodoh atau neurotik dan mereka ini seharusnya dibantu mengubah diri. Buruknya tindakan seseorang belum tentu menyebabkannya menjadi individu yang tidak berguna.
  3. Ide bahwa “dunia akan kiamat” kalau segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan rencana –bukannya gagasan bahwa walaupun sesuatu berjalan tidak sesuai keinginan, namun akan lebih baik kalau kita berusaha mengubah atau mengatur kondisi buruk tersebut Sedemikian rupa sehingga setelah itu besar kemungkinan kita akan berhasil mengatasi segala kesulitan. Kalaupun kemungkinan itu tidak ada, kita pun lebih baik bersabar menerima kenyataan dan tetap berusaha mencari jalan keluar.
  4. Ide bahwa hal-hal yang membuat manusia menderita pasti datang dari luar dan ditimpakan pada diri kita oleh orang lain –bukannya gagasan bahwa sikap neurotik itu disebabkan oleh pandangan-pandangan kita Sendiri akibat kondisi yang tidak menguntungkan di sekeliling kita.
  5. Ide kalau satu hal sangat rnenakutkan atau berbahaya, maka kita seharusnya sangat terobsesi dengan hal itu —bukannva gagasan bahwa kita seharusnya dengan tahap menghadapi keadaan itu dan memandangnya sebagai bukan akhir dari segala-galanya.
  6. Ide bahwa lebih mudah menghindar dari kesulitan hidup dan tanggung jawab ketimbang berusaha rnenghadapi dan menaklukannya — bukannya berpegang pada gagasan bahwa jalan yang mudah pada akhirnya akan menyusahkan diri sendiri.
  7. Ide bahwa kita membutuhkan sesuatu yang lebih kuat atau lebih besar dari diri kita sendiri yang dapat dijadikan pegangan —bukannya gagasan hahwa lebih baik berpikir dan bertindak sesuai kehendak sendiri dengan apa pun resikonya.
  8. Ide bahwa kita harus selalu punya kemampuan dan kecerdasan serta selalu berhasil mengelolanya dengan baik —bukannya gagasan bahwa lebih baik bertindak sesuai dengan kemampuan ketimbang hanya punva keinginan melakukan hal tenbaik dan tidak mau menerima kenyataan bahwa diri kita adalah makhluk yang tidak sempurna dan pasti melakukan kesalahan.
  9. Ide bahwa ketika satu peristiwa besar tenjadi, peristiwa tersebut pasti berbekas dan memengaruhi kehidupan kita selamanya —bukannya gagasan bahwa apa yang terjadi di masa lalu mesti dijadikan pelajaran buat hari ini dan masa yang akan datang, serta tidak terlalu terpaku dengan peristiwa masa lalu.
  10. Ide bahwa kita harus mampu mengatur sesuatu dengan baik —sebagai pengganti dari gagasan bahwa dunia ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan tak terduga dan kita tetap bisa menjalani kehidupan dengan segala kemungkinan ini.
  11. Ide bahwa kebahagiaan bisa dicapai dengan bakat alami yang ada dalam diri seseorang sejak lahir dan kebahagiaan itu ditujukan untuk diri sendiri —bukannya gagasan bahwa keinginan kita untuk bahagia ditentukan oleh kemauan kita mencapai tujuan secara kreatif atau selalu berusaha memproyeksikan usaha mencapai kebahagiaan itu keluar.
  12. Ide bahwa kita pada akhirnya tidak dapat menguasai perasaan sendiri dan perasaan kecewa terhadap sesuatu pasti tidak bisa dielakkan —bukannya gagasan bahwa kita sebenarnya mampu mengontrol perasaan-perasaan buruk jika kita mau mengubah pengandaian-pengandaian yang menyebabkan lahirnya perasaan-perasaan buruk itu.

(Diambil dan The Essence of Rational Emotive Behavior Therapy karangan Albert Ellis, Ph.D, 1994.)

Secara ringkas, Albert Ellis mengatakan bahwa ada tiga keyakinan irasional:

  1. Harus punya kemampuan sempurna,
  2. Orang lain harus memahami dan mempertimbangkan saya dirinya.
  3. Realita lingkungan harus  memberi kebahagiaan pada dirinya

Para terapis harus menggunakan kemampuannya untuk menantang keyakiiian-keyakinan semacam ini. Akan lebih baik lagi kalau dia mampu mengarahkan kliennya mencari argumen untuk membantah keyakinan irasional yang telah dipegangnya selama ini. Sebagai contoh, seorang terapis bisa saja bertanya,

Teknik-teknik tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metode,  berupa diskusi kelompok, pertimbangan-pertimbangan positif, kegiatan yang berisiko ganda, latihan-latihan empati, kepercayaan diri, dan sebagainya.

Kerelaan Menerima Diri-Sendiri

Ellis berulang kali menegaskan bahwa betapa pentingnya “kerelaan menerima diri-sendiri”. Dia mengatakan, dalam REBT, tidak seorang pun yang akan disalahkan, dilecehkan, apalagi dihukum atas keyakinan atau tindakan mereka yang keliru. Kita harus menerima diri sebagaimana adanya, menerima sebagaimana apa yang kita capai dan hasilkan.

Salah satu pendekatan yang ditawarkan Albert Ellis untuk para terapis adalah mengetahui nilai tersembunyi dalam diri klien sebagai seorang manusia. Nilai manusia hanya bisa muncul ketika manusia itu mau menjalani hidup.

Dia mengkritik teori-teori yang terlalu menekankan kemuliaan pribadi dan ketegaran ego serta konsep-konsep senada lairmya. Memang kita secara alamiah cenderung selalu menilai diri sendiri, dan itu sah-sah saja. Tapi kita harus beralih dan menilai diri sendiri dan segala tindakan kita kepada menilai apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan “diri”, sebuah entitas holistik yang sebenarnya sangat rancu. Bagaimana kita dapat melakukannya? Apa yang akan kita peroleh dengan melakukannya? Menurut Ellis, kita akan memperoleh ketidaktenangan.

Menurut Ellis, ada alasan-alasan tertentu kenapa orang mengedepankan diri atau egonya, yaitu kita ingin menegaskan bahwa kita hidup dan dalam keadaan baik-baik saja, kita ingin menikmati hidup, dan lain sebagainya. Akan tetapi, jika hal ini dilihat lebih jauh lagi, ternyata mengedepankan diri atau ego sendiri malah menyebabkan ketidaktenangan, seperti yang diperlihatkan oleh keyakinan-keyakinan irasional berikut ini:

  1. Aku ini punya kelebihan atau tak berguna.
  2. Aku ini harus dicintai atau orang yang selalu diperhatikan.
  3. Aku harus abadi.
  4. Aku harus jadi orang baik atau orang jahat.
  5. Aku harus membuktikan diriku.
  6. Aku harus mendapatkan apa pun yang saya inginkan.

Albert Ellis berpendapat bahwa evaluasi-diri yang keterlaluan akan menyebabkan depresi dan represi, sehingga orang akan mengingkari perubahan. Yang harus dilakukan manusia demi kesehatan jiwanya adalah berhenti menilai-nilai diri sendiri.

Gagasan yang menyatakan bahwa ada kesatuan transpersonal dalam diri atau jiwa. Agama Buddha, umpamanya, bisa berjalan baik tanpa adanya gagasan ini. Dia juga tidak percaya akan adanya alam bawah sadar mistis seperti yang diajarkan berbagai tradisi atau psikologi transpersonal yang dikemukakan ilmu psikologi. Dia menganggap keadaan kejiwaan semacam ini lebih bersifat tidak otentik ketimbang transenden.

Demikian Sedikit Tentang Teori Kepribadian Albert Ellis. Baca juga Artikel Lainnya.

Leave a Comment